MoslemBlue

Terangilah hidupmu dengan petunjuk Tuhanmu

TAUSIYAH UNTUK ASAATIDZ DAN USTAADZAAT

Posted by niamdh pada 19 Oktober 2013

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Para Ustadz… semoga Allah membahagiakan kita dengan keridloanNya. Amien.
Sehari-hari kita selalu sibuk dengan ilmu, yang kadang-kadang tanpa kita sadari kita merasa jadi orang baik bahkan kadang-kadang kita merasa lebih baik dari yang lain, ini sangat berbahaya. Karena ilmu tidak akan ada artinya apabila tidak kita imbangi dengan amal perbuatan yang baik dan ibadah..
Ibarat POHON YANG TAK BERBUAH, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil usaha hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari para auliya, jalan yang ditempuh oleh orang orang yang bertaqwa, bagian untuk mereka yang mulia, syi`ar dari golongan terhormat, pekerjaan orang-orang yang berani berkata jujur, pilihan orang orang yang waspada, dan jalan menuju sorga.
Allah swt berfirman;
وَأَناَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
“Dan akulah Tuhan kamu sekalian, berbaktilah kepada-Ku.”
Masalah ibadah cukup menjadi bahan pemikiran dari awal hingga tujuan akhirnya yang sangat dicita-citakan oleh penganutnya -yakni kaum Muslimin-, ternyata merupakan perjalanan yang amat sulit, penuh liku-liku, banyak halangan dan rintangan yang harus dilalui, serta sedikit kawan dan sedikit pula orang yang mau menolong. Demikianlah kenyataannya, sebab ibadah adalah jalan menuju surga.
Sesuai dengan sabda Rasulullah saw;
أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكاَرِهِ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ
“Perhatikan, sorga itu dikelilingi oleh berbagai kesukaran, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menarik.”
Rasulullah saw juga bersabda;
أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُزْنٌ بِرَبْوَةٍ، أَلاَ وَإِنَّ النَّارَ سَهْلٌ بِشَهْوَةٍ
“Perhatikan, jalan ke surga itu penuh rintangan dan liku-liku, sedangkan jalan ke neraka mudah dan rata.”
Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa manusia adalah makhluq lemah, sedangkan zaman sudah susah dan payah, urusan agama mundur, kesempatan berkurang, manusia disibukkan dengan urusan dunia, dan umur yang relatif pendek, perjalanan yang harus ditempuh sangat panjang. Maka, satu-satunya bekal adalah ta`at.
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Pendek kata, beruntung dan berbahagialah orang-orang yang ta`at. Dan sebaliknya, rugi dan celakalah orang-orang yang tidak mau ta`at.
Kita berharap, semoga Allah swt. memasukkan kita ke dalam golongan orang yang beruntung dengan memperoleh rahmat-Nya. Adapun hamba Allah yang sholeh, ia akan teringat untuk beribadah ketika bangun tidur, berawal dari adanya keyakinan di dalam hatinya yang suci.
Hal itu adalah petunjuk dan karunia Allah swt, dan yang dimaksud dengan firman Allah swt;
أَفَمَنْ شَرَحَ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ فَهُوَ عَلىَ نُوْرٍ
“Apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam, ia dikaruniai Allah dengan suatu nur?”
Hal itu telah diisyaratkan pula oleh Rasulullah saw dengan sabdanya;
إِنَّ النُّوْرَ إِذاَ دَخَلَ الْقَلْبَ انْفَسَحَ وَانْشَرَحَ
“Nur itu apa bila telah masuk ke dalam hati manusia, menjadi lapang dan lega hatinya.”
Perlu diketahui, Ilmu dan ibadah adalah dua mata rantai yang saling berkait. Allah menciptakan langit, bumi, dan segenap isinya hanya untuk ilmu dan ibadah. Sungguh besar arti ilmu dan ibadah bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Maka, wajiblah bagi kita hanya mengejar ilmu dan menjalankan ibadah, Sedangkan memikirkan yang lainnya adalah bathil. Sebab, dalam ilmu dan ibadah sudah tercakup segala urusan dunia dan akhirat.
Membangun Negara dan menciptakan kemakmuran. Jika semuanya dilaksanakan karena Allah,itupun termasuk ibadah. Jadi, dengan ilmu dan ibadah, dapat tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat, serta akan tercipta kemajuan dunia yang sehat bukan kemajuan yang menyesatkan. Hendaknya kita memusatkan perhatian dan pikiran kita hanya untuk ibadah dan lmu. Jika sudah demikian kita akan menjadi kuat dan berhasil. Karena, berpikir selain untuk ibadah dan ilmu adalah bathil dan sesat, serta hanya akan menghancurkan dunia.
Sehubungan dengan itu, berkatalah Imam Al-Hasan Basri, “Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah, Dan ibadahlah dengan tidak lupa menuntut ilmu.”
Semakin jelas kini bahwa manusia harus memiliki ilmu dan beribadah, dan ilmu lebih utama.
Sebab ilmu merupakan inti dalam menjalankan ibadah. Bagaimana mungkin kita menjalankan ibadah jika tidak tahu caranya? Perhatikan Sabda Rosulullah saw;
الْعِلْمُ إِماَمُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تاَبِعُهُ
“Ilmu adalah imamnya amal, dan amal adalah makmumnya.”
Dikisahkan ada dua orang, yang seorang adalah orang berilmu yang tidak pernah beribadah dan yang seorang lagi orang yang tidal berilmu tetapi menjalanka ibadah. Kemudian, keduanya diuji oleh seseorang seberapa kadar kejahatan kedua orang tersebut. Lantas si penguji mendatangi keduanya dengan mengenakan pakaian yang megah. Ia berkata pada orang yang rajin beribadah, ”Wahai hambaku aku telah mengampuni seluruh dosamu. Maka,sekarang kau tidak usah ibadah lagi.” Ahli ibadah menjawab. “Oh, itulah yang ku harapkan darimu ya Tuhanku.” Ahli ibadah menganggap si penguji sebagai Tuhan, sebab ia tidak mengetahui sifat-sifat Tuhannya. Selanjutnya sang penguji mendatangi orang yang berilmu, yang waktu itu ia sedang minum arak. Penguji berkata, ”WAHAI MANUSIA Tuhanmu akan mengampuni dosamu.” Dengan geram ia menjawab, “Kurang ajar! (Seraya mencabut pedangnya) engkau kira aku tidak tahu Tuhan?!”
Demikianlah, bahwa orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu, dan sebaliknya orang yang tidak berilmu akan mudah tertipu. Meskipun demikian kita tidak boleh lengah, kita jangan merasa sudah cukup ilmu, tapi salalu tambahlah ilmu karena masih banyak yang belum kita ketahui.
Didalam ilmu dan ibadah, kadang-kadang kita dihadapkan oleh godaan-godaan yang kadang muncul dan kadang-kadang lenyap. Hal itu membuat hati kita bimbang dalam mencapai tujuan ibadah. Di antarnya masalah Rezeki. Kita bertanya dalam hati, dari mana makanku? Pakaianku? Bagaimana aku memberi makan anak-anak dan keluargaku? Dari mana aku harus mempunyai bekal? Aku harus menjaga diri dari tipu daya sesame, jika demikian dari mana kekuatan bekalku?
Dalam masalah rezeki, kita harus tawakkal dan berserah diri kepada Allah swt, Karena rezeki tidak akan bertambah hanya karena tekun bekerja dan tidak akan berkurang karena tidak bekerja. Masalah rezeki memang rumit! Untuk itu masalah ini akan kami terangkan panjang lebar di bulan depan bi masyi’atillah.
Wallahulmuwafiq ilaa aqwaamittoriiq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kedudukan Hadits

Posted by niamdh pada 12 Februari 2009

BAB I

P E N D A H U L U A N

A. LATAR BELAKANG

Kedudukan hadis, terutama sebagai sumber hukum Islam, sejak zaman yang masih dini sudah dipersoalkan. Imam Syafi’i, yang digelari Nasir al-Hadis (Pembela Hadis), pernah menyebutkan adanya pendapat yang menolak hadis. Dengan kata lain, paling sedikit, ada pen­dapat yang menerima hadis yang hanya semakna dengan Al-Qur’an, yaitu hadis mutawdtir. Sedangkan selain hadis-hadis mutawatir mereka enggan mengamalkannya atau bahkan menolak dengan dalih bahwa Al-Qur’an sudah cukup sebagai sum­ber yang bersifat universal dan umum. Karena itu, pernyataan bahwa umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang telah sepakat menerima hadis se­bagai salah satu sumber hukum Islam sesudah Al-Qur’an, harus diberi catatan karena di kalangan ulama Islam juga ada yang tidak sependirian de­ngan kesepakatan tersebut. Mereka yang tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut, yang biasanya disebut ulama Ahlur Ra’yi (penganut pendapat), tidak menerima suatu hadis sebelum mengemuk-kan keterangan-keterangan Al-Qur’an yang mu-kam (tidak memerlukan lagi penjelasan apa-apa). Tentu saja pendirian serupa ini tidak dapat dinilai sebagai tidak berharga karena ia lahir dari ulama-ulama kalangan Islam sendiri, bukan di luarnya.


BAB II

PEMBAHASAN

Sebagai sumber kedua ajaran Islam, hadis telah melewati proses sejarah yang sangat panjang. Oleh para ahli di­katakan bahwa sampai masa sekarang, hadis telah melewati sedikitnya tujuh masa atau periode perkembangan.

A. PERIODE PERTAMA

Periode pertama ialah masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya (Masa Kerasulan, dari 13 Sebelum Hijriah hingga 11 H). Pada masa ini, Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat umumnya dan di tengah-tengah para sahabat pada khususnya, baik sewaktu ia tinggal di Mekah maupun setelah hijrah ke Madinah. Kemudahan untuk melihat dan berjumpa dengan Nabi SAW membuat seluruh ucapan-ucapannya, tingkah laku serta perbuatannya, dan sikap-sikapnya dengan mudah pula menjadi tumpuan perhatian dan pengamatan para sahabat. Semua segi dari sosok Nabi SAW mereka jadikan sebagai teladan kehidupan.

Pada sisi lain, Nabi SAW yang kalau berbicara perlahan, jelas, dan kalau perlu mengulangi ucapannya itu, memiliki kemampuan menggunakan dialek-dialek mitra bicaranya atau orang-orang yang dihadapinya. Ide-ide dan ucapannya seringkali dirasakan oleh mitra dialognya sebagai sesuatu yang sangat memukau. Di masa ini, Nabi SAW memerintahkan untuk menulis setiap wahyu yang turun. Di masa ini juga terdapat larangan me­nulis hadis. Tetapi dengan berbagai alasan, sebagian sahabat berinisiatif menulisnya di samping wahyu Al-Qur’an. Larangan tersebut bukan karena dikuatirkan akan bercampur-baur dengan Al-Qur’an, akan tetapi semata-mata supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada Al-Qur’an. Walaupun demikian, perhatian penuh sahabat untuk tidak hanya mencatat Al-Qur’an tetap tumbuh dan terpelihara. Sahabat Anas bin Malik misalnya mengatakan: “Ketika kami berada di sisi Nabi, kami simak hadisnya, dan ketika kami bubar, kami mendiskusikan hadis tersebut hingga kami menghapal-nya.”

Di masa ini, dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadis:

Pertama, hadis diterima secara langsung, yaitu:

1) melalui majelis pengajian Nabi SAW yang diadakan pada waktu-waktu tertentu;

2) adanya perilaku umat yang disaksikan oleh Nabi SAW, yang menghendaki penjelasan atau jawaban langsung dari Nabi SAW.

3) pertanyaan yang diajukan oleh sahabat atau atas permintaan penjelasan dari sahabat kepada Nabi SAW.

4) adanya peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi SAW dan sahabat menyaksikan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa tersebut.

Kedua, hadis diterima secara tidak langsung. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor:

1) Kesibukan yang dialami sahabat.

2) Tempat tinggal sahabat yang jauh. Dalam hal ini mereka menerima hadis dari tangan/orang kedua sesudah Nabi SAW.

3) Perasaan malu untuk bertanya langsung kepada Nabi SAW.

4) Nabi SAW sendiri yang menghendaki adanya perantara.

Dengan demikian, sejak periode ini terdapat perbedaan tingkat cara penerimaan hadis di kalangan sahabat. Selain sebab-sebab yang telah di­sebutkan, masih ada faktor lain, yaitu tingkat kemampuan, termasuk tingkat kecerdasan di antara mereka. Hal ini telah ikut menentukan kualitas pe­nerimaan dan juga penyampaian hadis.

Periode ini menunjukkan beberapa ciri tertentu, antara lain:

1) keaktifan para sahabat dalam me­nerima hadis dan menyalinnya pada catatan-catatan mereka sendiri yang disebut sahifah, yaitu tulisan pada pelepah kurma, kulit kayu, dan tulang-tulang hewan. Tetapi karena di masa ini terdapat larangan menulis hadis, maka para sahabat dalam menerima hadis berpegang pada kekuatan hapalan mereka. Selain itu hal ini juga disebabkan di masa ini sahabat Nabi SAW yang bisa menulis sangat sedikit;

2) hadis diterima dan disampaikan dengan mengandalkan kekuatan hapalan.

Para sahabat yang banyak menerima hadis di masa ini ada beberapa kelompok.

a. Pertama, mereka yang mula-mula masuk Islam yang dinamai as-sab-qun al-awwalun.

b. Kedua, mereka yang selalu berada di samping Nabi SAW dan bersungguh-sungguh menghapal hadisnya.

c. Ketiga, mereka yang berusia panjang.

d. Keempat, mereka yang secara pribadi erat hubungannya de­ngan Nabi SAW.

Adanya larangan menulis hadis di masa ini oleh para ulama dipahami sebagai sesuatu yang bersifat umum. Tetapi Nabi SAW tetap membolehkan adanya penulisan hadis. Kebolehan ini bersifat sangat khusus, yaitu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak dikuatirkan akan mencampurbaurkan antara catatan-catatan wahyu Al-Qur’an dan hadis. Larangan penulisan hadis pun merupakan larang­an pembukuan hadis secara resmi. Sesungguhnya, semuanya itu bisa dipahami berhubung pada masa itu wahyu Al-Qur’an dalam proses turun secara bertahap dan dengan bimbingan wahyu Nabi SAW membangun serta membentuk masyarakat. Karena itu, masa ini disebut ‘Ashr al-Wahy wa al-Takwin (Masa Turunnya Wahyu dan Pembentukan Masyarakat). Di antara sahabat yang menulis hadis adalah Ab­dullah bin Amr bin As (7 Sebelum Hijriah hingga 65 H) dengan naskahnya yang berjudul as-Sahifah as-Sa-diqah dan Jabir bin Abdullah al-Ansari (16 – 73 H) dengan naskahnya yang berjudul Sahlfah Jabir.

B. PERIODE KEDUA

Periode ini disebut Zaman al-Tasabbut wa al-Iqlal min al-Riwayah (Periode Membatasi Hadis dan Menyedikitkan Riwayat), yaitu pada masa khalifah empat (Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib). Khalifah Abu Bakar dan kemudian penggantinya, Umar bin Khattab, menyerukan kepada umat untuk bersikap hati-hati dan cermat dalam meriwayatkan hadis serta meminta kepada para sahabat untuk memeriksa dengan teliti riwayat hadis yang mereka terima.

Ada riwayat bahwa Abu Bakar sendiri telah bersedia membakar sahifah-sahifah miliknya. Tindakan Abu Bakar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) mungkin Abu Bakar merasa bahwa catatan-catatan hadisnya tersebut tidak persis de­ngan apa yang telah disampaikan oleh Nabi SAW dan

2) mungkin, menurut Abu Bakar sendiri, apa yang dibakarnya itu sudah sama dengan yang ter­dapat pada sahabat lainnya.

Terdapat riwayat lain bahwa di depan Abu Salamah, Abu Hurairah mengaku bahwa seandainya ia meriwayatkan hadis di masa Umar menjadi khalifah, seperti yang ia lakukan pada masa itu (setelah Umar wafat), niscaya Umar akan mencambuknya. Riwayat lain mengatakan, Umar menentang keras riwayat hadis atau mereka yang datang membawa kabar (hadis) hukum tanpa diperkuat oleh seorang saksi. Ia juga menekankan para sahabat supaya menyedikitkan riwayat. Dengan penjelasan serupa dapat dipahami adanya sumber yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah.

C. PERIODE KETIGA

Disebut Zaman Intisyar al-Riwayah ila al-Amsar (Periode Penyebaran Riwayat ke Kota-Kota), berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Penaklukan yang dilakukan oleh tentara Islam atas wilayah Syam (Suriah) dan Irak (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Sa­markand (56 H), dan Spanyol (93 H) mengharuskan para sahabat berpindah ke tempat-tempat baru tersebut untuk keperluan mengajarkan agama Islam bagi penduduk setempat.

Pada perkembangan selanjutnya, seorang sahabat yang mendengar suatu riwayat (hadis) yang belum pernah didengarnya merasa perlu berkunjung ke kota tempat tinggal sahabat yang disebutkan meriwayatkan hadis tersebut. Berita kedatangan seorang sahabat di suatu daerah mengundang perhatian tabiin untuk mendatanginya dan berkerumun di sekitar sahabat tersebut untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya, termasuk pengajaran tentang hadis.

Dengan demikian periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin mencari dan menyerap hadis-hadis dari generasi sahabat yang masih hidup. Pada periode ini, terkenallah sahabat-sahabat yang dijuluki sebagai “bendaharawan” hadis, yaitu me­reka yang meriwayatkan lebih dari seribu hadis. Di antara mereka adalah:

1) Abu Hurairah, meriwa­yatkan 5.374 hadis;

2) Abdullah bin Umar bin Khattab, meriwayatkan 2.630 hadis;

3) Anas bin Malik, meriwayatkan 2.266 hadis;

4) Aisyah, meri­wayatkan 1.210 hadis;

5) Abdullah bin Abbas, me­riwayatkan 1.660 hadis;

6) Jabir bin Abdullah, meriwayatkan 1.540 hadis; dan

7) Abu Sa’id al-Khudri, meriwayatkan 1.170 hadis.

Di masa ini terdapat pula sahabat yang menyedikitkan riwayat karena takut terjerumus dalam kedustaan atau takut karena usia lanjut sehingga banyak hadis yang terlupakan. Az-Zubair dan Zaid bin Arqam adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti ini.

Adapun di antara tabiin yang tercatat sebagai tokoh-tokoh hadis pada periode ini adalah

1) Sa’id dan Urwah di Madinah,

2) Ikrimah dan Ata bin Abi Rabah di Mekah,

3) asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakha’i di Kufah,

4) Abu Qatadah dan Muhammad bin Sirin di Basra,

5) Umar bin Abdul Aziz dan Qabisah bin Zuaib di Syam (Suriah),

6) Abu Khair Mar-sad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesir, dan

7) Tawus bin Kaisan al-Yamani serta Wahab bin Mu-nabbih di Yaman.

Kota-kota dan wilayah-wilayah yang disebutkan di atas juga sekaligus menjadi pusat hadis.

D. PERIODE KEEMPAT

Disebut ‘Ashr al-Kitabah wa al-Tadwin (Periode Penulisan dan Kodifikasi Resmi), berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-720 M) sampai akhir abad ke-2 H. Selanjutnya, kodifikasi hadis dilakukan oleh para ulama atas anjuran dan dukungan para khalifah, seperti Khalifah Abu Abbas as-Saffah dan khalifah-khalifah keturunannya dari Dinasti Abbasiyah.

Periode pendewanan hadis yang disponsori oleh khalifah-khalifah Abbasiyah ini melahirkan ulama-ulama hadis, seperti Ibnu Juraij (w. 150 H) di Mekah, Abu Ishaq (w. 151 H) dan Imam Malik (w. 179 H) di Madinah, ar-Rabi bin Sabih (w. 160 H) dan Hammad bin Salamah (w. 176 H) di Basra, Sufyan as-Sauri (w. 116 H) di Kufah, dan Abdur­rahman al-Auza’i (w. 156 H) di Syam (Suriah). Oleh karena mereka hidup dalam generasi yang sama, yaitu pada abad ke-2 H, sukar untuk ditetapkan siapa di antara mereka yang lebih dahulu muncul. Namun yang jelas adalah mereka itu sama-sama berguru kepada Ibn Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Di antara ciri-ciri hadis yang didewankan pada abad ke-2 H ini adalah mereka tidak menghiraukan atau belum sempat menyeleksi apakah yang me­reka dewankan itu hadis Nabi SAW semata-mata ataukah termasuk juga di dalamnya fatwa-fatwa sahabat dan tabiin. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka belum membuat pengelompokan kandungan nas-nas (teks) hadis menurut kelompok-kelompok-nya.

Dalam periode keempat ini sejumlah hadis berhasil dihimpun dalam buku-buku yang dinamakan al-Jami’, al-Musannaf, al-Musnad, dan lain-lain. Misalnya, al-Musnad susunan Imam Syafi’i, al-Musannaf susunan al-Auza’i, dan al-Muwatta’ su­sunan Imam Malik yang disusun atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (144 H).

E. PERIODE KELIMA

Disebut ‘Ashr al-Tajrid wa al-Tashih wa al-Tanqih (Periode Pemurnian, Penyehatan, dan Penyempurnaan), dari awal abad ke-3 sampai akhir abad ke-3 H. Periode ini menanggung dan mencarikan pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan hadis yang muncul dan belum diselesaikan pada periode sebelumnya.

Pemisahan antara hadis Nabi SAW dan fatwa sahabat yang mulai terasa keperluannya dan adanya pemalsuan-pemalsuan hadis yang telah menarik perhatian para ulama pada masa sebelumnya pada periode ini semakin terasa mendesak untuk ditangani. Para ulama pun di masa ini menghimpun dan membuku­kan hadis-hadis Nabi SAW ke dalam buku hadis dan memisahkannya dari fatwa-fatwa sahabat.

Kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini antara lain:

1) perlawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadis-hadis dari para rawi semakin meningkat;

2) membuat klasifikasi hadis pada yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW), yang mauquf (yang disandarkan kepada sa­habat), dan yang maqtu’ (yang disandarkan kepada tabiin); dan

3) menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik kepada rawi (yang meriwayatkan) maupun matan (teks) hadis, dan memberikan jawaban atas kritik tersebut.

Sebagai tindak lanjut dari usaha pemisahan antara hadis dan fatwa sahabat, di masa ini lahirlah buku-buku hadis dalam corak lebih baru yang dinamakan kitab sahih, kitabSunan, dan kitab Musnad. Kitab Sahih adalah kitab yang memuat hadis-hadis sahih saja. Kitab Sunan adalah kitab yang memuat seluruh hadis, kecuali hadis yang sangat daif dan munkar (sangat lemah). Sedangkan Musnad adalah kitab yang memuat semua hadis, baik sahih, hasan, maupun daif.

Di masa ini bangkit imam hadis yang besar, Ishaq bin Rahawaih, yang merintis usaha memisahkan hadis-hadis yang sahih dari yang tidak. Usaha ini dilanjutkan dengan sangat baik oleh Imam Bukhari dan muridnya, Imam Muslim, dengan menyusun kitab hadisnya, yang masing-masing dinamai kitab Sahih. Imam-imam hadis terkenal lainnya, seperti Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, mulai pula menyusun kitab-kitab Su­nan mereka. Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) dengan kitab Musnad-nya. Penyusun kitab Musnad lainnya antara lain Musa al-Abbasi, Musaddad al-Basri, Asad bin Musa, dan Nu’aim bin Hamad al-Khaza’i.

Kitab-kitab itu oleh pengarangnya juga dimaksudkan sebagai jawaban atas usaha pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang telah disebutkan dan dari kalangan mazhab-mazhab fikih, aliran-aliran kalam/teologi, dan tasawuf yang fanatik dalam membela golongannya.

F. PERIODE KEENAM

Disebut ‘Ashr al-Tahzib wa al-Tartib wa al-Istidrak wa al-Jam’ (Periode Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, dan Penghimpunan), mulai abad ke-4 H sampai jatuhnya kota Baghdad (656 H/1258 M). Ulama-ulama hadis telah menetapkan bahwa para ahli yang hidup sebelum abad ke-4 H atau periode ini disebut mutaqaddimin (pendahulu), sedangkan sesudahnya disebut muta’akhkhirin. Ulama hadis mutaqaddimin pada umumnya melakukan kegiatan mereka secara mandiri, dalam arti mengumpulkan hadis dan memeriksanya sendiri dengan menemui para penghapalnya yang tersebar di banyak pelosok negeri. Sedangkan kegiatan ulama hadis muta’akhkhirin pada umum­nya bersandar pada karya-karya ulama mutaqaddimin, dalam arti hadis yang mereka kumpulkan merupakan petikan atau nukilan dari kitab-kitab mutaqaddimin.

Pada periode ini tumbuh asumsi untuk merasa cukup dengan hadis-hadis yang telah dihimpun oleh ulama mutaqaddimin. Oleh karena itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbagai negeri untuk mencari hadis. Semangat di masa ini adalah semangat memelihara apa yang telah dikerjakan oleh para pendahulu mereka.

Para ulama hadis dalam periode ini saling berlomba untuk menghapal sebanyak-banyaknya hadis yang telah terdewan, sehingga tidak mustahil sebagian dari mereka sanggup menghapal beratus-ratus ribu hadis. Sejak periode ini timbul bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu hadis, seperti al-Hakim dan al-Hafiz.

Selain itu, ulama dalam periode keenam ini berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengumpulkan yang masih berserakan, dan memudahkan jalan-jalan pengambilan hadis. Pengumpulan ha­dis-hadis untuk disusun dalam bagian-bagian yang lebih sistematis, misalnya menghimpun dan membukukan hadis-hadis tentang hukum, lebih digiatkan. Di masa ini pula bermunculan kitab-kitab syarh atau syarah, yaitu kitab yang mengomentari kitab hadis tertentu, yang lebih banyak dibuat dari masa sebelumnya.

Kegiatan lain di masa ini adalah istikhraj, yaitu mengambil suatu hadis dari ulama hadis tertentu lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri yang lain dari sanad ulama hadis tersebut. Kitab hadis yang dibuat dengan metode ini disebut mustakhrij. Selain itu, di masa ini lahir kitab hadis yang disebut kitab Atraf, yang menyebut hanya sebagian-sebagian dari matan atau teks hadis, kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad dari kitab hadis yang dikutip maupun dari kitab lain; kitab Mustadrak, yang menghimpun hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya saja; dan kitab Jami’, yang menghimpun hadis-hadis yang telah termuat dalam kitab-kitab yang telah ada.

Ulama-ulama pada periode ini memberikan perhatian besar terhadap kegiatan memperbaiki susunan kitab hadis dan mengumpulkan hadis-ha­dis yang sudah terdapat dalam kitab-kitab sebe­lumnya ke dalam sebuah kitab hadis yang lebih besar. Kitab-kitab yang masyhur hasil karya ulamaabad ke-4H antara lain:

1) al-Mu’jam al-Kabir,

2) al-Mu’jam al-Ausat,

3) al-Mu’jam as-Sagir,

ketiga-tiganya karya Imam Sulaiman bin Ahmad at-Ta-barani (w. 360 H),

4) Sunan al-Daruqutni karya Imam Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad Daruqutni (306-385 H),

5) Sahlh Abi ‘Auwanah karya Abu Auwanah Ya’qub bin Ishaq Ibrahim al-As-farayini (w. 354 H), dan

6) Sahih Ibn Khuzaimah karya Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq (w. 316 H).

Adapun kitab-kitab hadis yang lahir pada abad ke-5 H hingga akhir periode keenam an­tara lain:

1) as-Sunan al-Kubra karya Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali al-Baihaki (384-458 H);

2) Muntaqa al-Akhbdr karya Majdudin al-Harrani (w. 652 H);

3) Nail al-Autdr, sebagai syarah kitab Muntaqa al-Akhbar, karya Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1172-1250 H);

4) at-Targib wa at-Tarhlb karya Imam Zakiyu’ddin Abdu’l-’Adim al-Munziri (w. 656 H);

5) Dalil al-Falihin karya Muhammad bin Allan as-Siddiqi (w. 1057 H), sebagai syarah Kitab Riydd as-Sdlihin karya Imam Muhyiddin Abi Zakariya an-Nawawi (w. 676 H/1277 M).

G. PERIODE KETUJUH

Disebut ‘Ahd al-Syarh wa al-Jam’ wa al-Takhrij wa al-Bahs (Periode Pensyarahan, Perhimpunan, Pe-takhrijan atau Pengeluaran Riwayat, dan Pembahasan), mulai jatuhnya kota Baghdad sampai sekarang.

Periode ketujuh masih meneruskan beberapa kegiatan dari periode sebelumnya, di samping kegiatan-kegiatan lainnya. Penghancuran Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulagu Khan (656 H/1258 M) telah menggeser kegiatan di bidang hadis ke Mesir dan India. Banyak kitab hadis yang beredar di tengah-tengah masyarakat Islam berasal dari usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama India. Contoh dalam hal ini adalah penerbitan kitab ‘Ulum al-Hadis (Ilmu-ilmu Hadis) karya al-Hakim.

Cara penerimaan dan penyampaian hadis di masa ini juga mengalami pergeseran. Cara yang digunakan kadang-kadang berupa pemberian izin oleh seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis dari guru tersebut dan kadang-kadang berupa pemberian Catatan hadis dari seorang guru kepada seseorang yang ada di dekatnya atau yang jauh, baik catatan itu dibuat sendiri oleh guru ter­sebut atau menyuruh orang lain. Cara yang pertama dikenal dengan nama ijazah, sedang yang kedua dinamai mukatabah (penulisan).

Pada periode ini tidak banyak lagi dapat dijumpai ulama-ulama hadis yang mampu menyampaikan periwayatan hadis beserta sanadnya secara hapalan yang sempurna. Kegiatan yang umum pada masa ini adalah mempelajari kitab-kitab hadis yang telah ada, mengembangkannya, dan membuat pembahasan-pembahasannya atau juga membuat ringkasan-ringkasan terhadap kitab-kitab hadis yang telah ada. Pada masa yang lebih kemudian dalam periode ini, kegiatan-kegiatan di bidang ha­dis juga berpindah ke Arab Saudi.


BAB III

P E N U T U P

A. KESIMPULAN

Dalam pembahasannya hadits telah melalui 7 (tujuh) masa atau periode perkembangan:

1) Periode pertama, yaitu mulai masa kerasulan (13 SH – 11 H).

Mada masa ini para sahabat langsung menerima hadits dari Rasulullah SAW.

2) Periode kedua, yaitu pada masa khulafaurrasyidin.

Periode ini disebut Zaman al-Tasabbut wa al-Iqlal min al-Riwayah (Periode Membatasi Hadis dan Menyedikitkan Riwayat)

3) Periode ketiga, yaitu pada masa sahabat kecil dan tabi’in besar.

Periode ini disebut Zaman Intisyar al-Riwayah ila al-Amsar (Periode Penyebaran Riwayat ke Kota-Kota)

4) Periode keempat, yaitu berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-720 M) sampai akhir abad ke-2 H.

Periode ini disebut ‘Ashr al-Kitabah wa al-Tadwin (Periode Penulisan dan Kodifikasi Resmi)

5) Periode kelima, yaitu dari awal abad ke-3 sampai akhir abad ke-3 H.

Periode ini disebut ‘Ashr al-Tajrid wa al-Tashih wa al-Tanqih (Periode Pemurnian, Penyehatan, dan Penyempurnaan)

6) Periode keenam, yaitu mulai abad ke-4 H sampai jatuhnya kota Baghdad (656 H/1258 M).

Periode ini disebut ‘Ashr al-Tahzib wa al-Tartib wa al-Istidrak wa al-Jam’ (Periode Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, dan Penghimpunan)

7) Periode ketujuh, yaitu mulai jatuhnya kota Baghdad sampai sekarang.

Periode ini disebut ‘Ahd al-Syarh wa al-Jam’ wa al-Takhrij wa al-Bahs (Periode Pensyarahan, Perhimpunan, Pe-takhrijan atau Pengeluaran Riwayat, dan Pembahasan)

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Surat Al-Fatehah

Posted by niamdh pada 29 November 2008

بِسْمِ اللهِ الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين

الرحمن الرحيم

مالك يوم الدين

إياك نعبد وإياك نستعين

اهدنا الصراط المستقيم

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

أمين

Ditulis dalam Uncategorized | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by niamdh pada 20 November 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.