TAUSIYAH UNTUK ASAATIDZ DAN USTAADZAAT

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Para Ustadz… semoga Allah membahagiakan kita dengan keridloanNya. Amien.
Sehari-hari kita selalu sibuk dengan ilmu, yang kadang-kadang tanpa kita sadari kita merasa jadi orang baik bahkan kadang-kadang kita merasa lebih baik dari yang lain, ini sangat berbahaya. Karena ilmu tidak akan ada artinya apabila tidak kita imbangi dengan amal perbuatan yang baik dan ibadah..
Ibarat POHON YANG TAK BERBUAH, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil usaha hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari para auliya, jalan yang ditempuh oleh orang orang yang bertaqwa, bagian untuk mereka yang mulia, syi`ar dari golongan terhormat, pekerjaan orang-orang yang berani berkata jujur, pilihan orang orang yang waspada, dan jalan menuju sorga.
Allah swt berfirman;
وَأَناَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
“Dan akulah Tuhan kamu sekalian, berbaktilah kepada-Ku.”
Masalah ibadah cukup menjadi bahan pemikiran dari awal hingga tujuan akhirnya yang sangat dicita-citakan oleh penganutnya -yakni kaum Muslimin-, ternyata merupakan perjalanan yang amat sulit, penuh liku-liku, banyak halangan dan rintangan yang harus dilalui, serta sedikit kawan dan sedikit pula orang yang mau menolong. Demikianlah kenyataannya, sebab ibadah adalah jalan menuju surga.
Sesuai dengan sabda Rasulullah saw;
أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكاَرِهِ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ
“Perhatikan, sorga itu dikelilingi oleh berbagai kesukaran, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menarik.”
Rasulullah saw juga bersabda;
أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُزْنٌ بِرَبْوَةٍ، أَلاَ وَإِنَّ النَّارَ سَهْلٌ بِشَهْوَةٍ
“Perhatikan, jalan ke surga itu penuh rintangan dan liku-liku, sedangkan jalan ke neraka mudah dan rata.”
Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa manusia adalah makhluq lemah, sedangkan zaman sudah susah dan payah, urusan agama mundur, kesempatan berkurang, manusia disibukkan dengan urusan dunia, dan umur yang relatif pendek, perjalanan yang harus ditempuh sangat panjang. Maka, satu-satunya bekal adalah ta`at.
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Pendek kata, beruntung dan berbahagialah orang-orang yang ta`at. Dan sebaliknya, rugi dan celakalah orang-orang yang tidak mau ta`at.
Kita berharap, semoga Allah swt. memasukkan kita ke dalam golongan orang yang beruntung dengan memperoleh rahmat-Nya. Adapun hamba Allah yang sholeh, ia akan teringat untuk beribadah ketika bangun tidur, berawal dari adanya keyakinan di dalam hatinya yang suci.
Hal itu adalah petunjuk dan karunia Allah swt, dan yang dimaksud dengan firman Allah swt;
أَفَمَنْ شَرَحَ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ فَهُوَ عَلىَ نُوْرٍ
“Apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam, ia dikaruniai Allah dengan suatu nur?”
Hal itu telah diisyaratkan pula oleh Rasulullah saw dengan sabdanya;
إِنَّ النُّوْرَ إِذاَ دَخَلَ الْقَلْبَ انْفَسَحَ وَانْشَرَحَ
“Nur itu apa bila telah masuk ke dalam hati manusia, menjadi lapang dan lega hatinya.”
Perlu diketahui, Ilmu dan ibadah adalah dua mata rantai yang saling berkait. Allah menciptakan langit, bumi, dan segenap isinya hanya untuk ilmu dan ibadah. Sungguh besar arti ilmu dan ibadah bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Maka, wajiblah bagi kita hanya mengejar ilmu dan menjalankan ibadah, Sedangkan memikirkan yang lainnya adalah bathil. Sebab, dalam ilmu dan ibadah sudah tercakup segala urusan dunia dan akhirat.
Membangun Negara dan menciptakan kemakmuran. Jika semuanya dilaksanakan karena Allah,itupun termasuk ibadah. Jadi, dengan ilmu dan ibadah, dapat tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat, serta akan tercipta kemajuan dunia yang sehat bukan kemajuan yang menyesatkan. Hendaknya kita memusatkan perhatian dan pikiran kita hanya untuk ibadah dan lmu. Jika sudah demikian kita akan menjadi kuat dan berhasil. Karena, berpikir selain untuk ibadah dan ilmu adalah bathil dan sesat, serta hanya akan menghancurkan dunia.
Sehubungan dengan itu, berkatalah Imam Al-Hasan Basri, “Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah, Dan ibadahlah dengan tidak lupa menuntut ilmu.”
Semakin jelas kini bahwa manusia harus memiliki ilmu dan beribadah, dan ilmu lebih utama.
Sebab ilmu merupakan inti dalam menjalankan ibadah. Bagaimana mungkin kita menjalankan ibadah jika tidak tahu caranya? Perhatikan Sabda Rosulullah saw;
الْعِلْمُ إِماَمُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تاَبِعُهُ
“Ilmu adalah imamnya amal, dan amal adalah makmumnya.”
Dikisahkan ada dua orang, yang seorang adalah orang berilmu yang tidak pernah beribadah dan yang seorang lagi orang yang tidal berilmu tetapi menjalanka ibadah. Kemudian, keduanya diuji oleh seseorang seberapa kadar kejahatan kedua orang tersebut. Lantas si penguji mendatangi keduanya dengan mengenakan pakaian yang megah. Ia berkata pada orang yang rajin beribadah, ”Wahai hambaku aku telah mengampuni seluruh dosamu. Maka,sekarang kau tidak usah ibadah lagi.” Ahli ibadah menjawab. “Oh, itulah yang ku harapkan darimu ya Tuhanku.” Ahli ibadah menganggap si penguji sebagai Tuhan, sebab ia tidak mengetahui sifat-sifat Tuhannya. Selanjutnya sang penguji mendatangi orang yang berilmu, yang waktu itu ia sedang minum arak. Penguji berkata, ”WAHAI MANUSIA Tuhanmu akan mengampuni dosamu.” Dengan geram ia menjawab, “Kurang ajar! (Seraya mencabut pedangnya) engkau kira aku tidak tahu Tuhan?!”
Demikianlah, bahwa orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu, dan sebaliknya orang yang tidak berilmu akan mudah tertipu. Meskipun demikian kita tidak boleh lengah, kita jangan merasa sudah cukup ilmu, tapi salalu tambahlah ilmu karena masih banyak yang belum kita ketahui.
Didalam ilmu dan ibadah, kadang-kadang kita dihadapkan oleh godaan-godaan yang kadang muncul dan kadang-kadang lenyap. Hal itu membuat hati kita bimbang dalam mencapai tujuan ibadah. Di antarnya masalah Rezeki. Kita bertanya dalam hati, dari mana makanku? Pakaianku? Bagaimana aku memberi makan anak-anak dan keluargaku? Dari mana aku harus mempunyai bekal? Aku harus menjaga diri dari tipu daya sesame, jika demikian dari mana kekuatan bekalku?
Dalam masalah rezeki, kita harus tawakkal dan berserah diri kepada Allah swt, Karena rezeki tidak akan bertambah hanya karena tekun bekerja dan tidak akan berkurang karena tidak bekerja. Masalah rezeki memang rumit! Untuk itu masalah ini akan kami terangkan panjang lebar di bulan depan bi masyi’atillah.
Wallahulmuwafiq ilaa aqwaamittoriiq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s