Dialog dengan Pendeta Mengaku Mantan Islam

Oleh: Abu Deedat Syihab, MH

Di kalangan Kristen, Pendeta Nico ditokohkan sebagai pakar islamologi. Maklum, pendeta paruh baya ini mengaku mantan ustadz fanatik berdarah minang. Dalam tulisan dan ceramah kesaksian kepada jemaat Kristen, Nico selalu mengutip ayat-ayat Alqur’an yang ditafsirkan untuk mendukung doktrin Kristen.

Suatu ketika Alexius menghadapi masalah. Saudara sepupunya hendak menikah dengan wanita asal Minang. Karena berbeda iman, maka Alex berusaha mempersatukan kedua calon pengantin beda agama itu dalam satu keyakinan kristiani. Maka diadakanlah forum diskusi Islam dan Kristen antara keluarga pria Kristen dengan pihak wanita Muslimah. Di situlah Alex mengundang Pendeta Nico dengan harapan dapat melunturkan iman sang Muslimah.

Pertemuan terjadi di Pondok Kelapa. Pendeta Nico hadir dengan istrinya. Tak lupa dibawanya tas hitam berisi Alkitab (Bibel), buku-buku teologi dan diktat Islamologi.

Selanjutnya Nico menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah kaprah terhadap Alkitab (Bibel), dengan menyakininya sebagai kitab suci palsu. Menurutnya, ini adalah praduga yang keliru, karena umat Islam hanya bisa menuduh tanpa bisa membuktikan.

Pada sesi tanya jawab, saya mengajukan pertanyaan, “Maaf Pak Pendeta, saya tidak faham makna Injil Matius 7:21 dalam Alkitab. Tolong Bapak jelaskan!” tanya saya seraya memberikan Alkitab yang dibawanya.

Beberapa menit Pendeta Nico pun mencari ayat yang dimaksud. Lalu ia membaca ayat 22. Saya menginterupsi, “Maaf pak, Anda salah baca. Saya bertanya ayat 21, tapi kenapa Bapak membaca ayat 22?” Suasana sedikit beku, raut muka Pendeta Nico nampak sedikit tegang, kelabakan mencari ayat yang dimaksud tapi tak menemukan. Ayat 21 dalam Alkitab Terjemahan Dunia Baru terbitan Kristen Saksi Yehovah itu memang tidak ada isinya. Setelah ayat 20 disusul dengan angka ayat 21 tapi tidak ada isinya alias kosong, kemudian langsung loncat ke ayat 22.

Untuk mencairkan suasana, saya mempersilahkan Nico untuk membaca Injil Matius 17:21 dalam Alkitab yang dibawa Nico. Ia pun menemukan ayat yang dimaksud dan membacanya: “[Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.]”

“Coba Bapak perhatikan, kenapa ayat itu diberi kurung?” tanya saya.

Pendeta Nico tak menjawab, hanya mengelak sekenanya. “Maaf saudara, ini belum pernah saya kaji. Akan saya jadikan PR, nanti saya kaji lebih lanjut,” jelasnya.

Sebenarnya, untuk menjawab misteri ayat kosong dalam Bibel itu tidak harus menunggu waktu lama. Saya pun menyodorkan Alkitab versi Katolik, kepada istrinya Pendeta Nico yang duduk disampingnya. Tanpa kesulitan sama sekali, ia segera menemukan ayat yang dimaksud pada halaman 53, tapi ayat tersebut dicetak dalam tanda kurung.

Dalam Alkitab terbitan tahun 1978 itu terjawablah kenapa Matius 17:21 ditulis dalam tanda kurung dan menurut versi lain ayat itu tidak dimuat. Ternyata ayat tersebut diberi catatan kaki dengan penjelasan singkat: “Ayat ini agaknya tidak asli dalam Matius tetapi diambil dari Markus 9:29.”

Karena sangat kaget dengan catatan kaki itu, ia bertanya kepada Pendeta Nico, suaminya, “Ini Alkitab siapa ya?”

Pendeta Nico pun memeriksa Alkitab bersampul merah itu. Di sampul depan tertera “Kitab Suci Perjanjian Baru cetakan Arnoldus Ende.”

“Ini bukan Alkitab saya, ini punya Katolik! Ini kan Alkitab pegangan khusus pendeta,” jawabnya spontan.

Seorang peserta lainnya menimpali dengan logat minang, “Oh, jadi Alkitab pendeta tidak sama dengan Alkitab jemaat?” Pendeta Nico enggan menjawab, mukanya makin pucat.

Saya kembali menanyakan makna Injil Markus pasal 9 ayat 44 dan 46. Pendeta Nico kembali kalang kabut mencari ayat yang dimaksud. Karena dalam Alkitab terjemahan Dunia Baru, ayat tersebut hanya mencamtumkan nomor ayat tanpa ada isi ayatnya.

Misteri kosongnya ayat 44 dan 46 dalam injil Markus pasal 9 ini kembali terjawab oleh ‘Kitab Suci Perjanjian Baru’ terbitan Arnoldus Ende. Pada halaman 113, ayat 44 dan 46 itu dicantumkan utuh tapi diapit dengan dua tanda kurung, kemudian diberi catatan kaki dengan penjelasan singkat: “Kedua ayat ini tidak asli dan hanya mengulang ayat 48.”

Dengan fakta-fakta ini, gugurlah tudingan Pendeta Nico terhadap umat Islam. Kepalsuan Alkitab yang diyakini oleh umat islam bukanlah isapan jempol, tapi realita yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan faktual.

Benarlah firman Allah SWT:

فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتاَبَ بِأَيدِيْهِمْ…

“Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri.” [QS. Al-Baqarah:79].


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s